The Train Saga and a Woman

The Train Saga and a Woman : Photo by Osman Rana on Unsplash

The Train Saga and a Woman

Pertikaian keduanya berujung tragedi. Lauren menyangkal tudingan Nina. Belum lama ini, Nina menyadari bahwa Lauren ada main dengan bekas suaminya. Malam itu amat mencekam, Nina termakan api setan mengetahui kekejian sang adik, Lauren.

“Dasar perempuan geladak! Perkawinanku kandas oleh adik kandung sendiri.”sentak Nina lalu menggampar Lauren.

Hujan deras tambah mendalangi pertengkaran hebat ini. Naas, malam itu Nina kehilangan akal, ia pergi ke dapur mencari-cari sesuatu. Diambilnya sebilah pisau yang baru saja diasah tadi pagi. Lalu menikam Lauren sampai tewas. Nina tak habis pikir, setan apa yang merasukinya hingga membunuh adiknya sendiri? Digopongnya mayat itu dan dikuburkan di bawah kamarnya sendiri. Baju merah bermotif sakura miliknya dilumuri darah. Dalam keadaan panik, ia memakaikan baju itu pada mayat Lauren, melenyapkan jejak perbuatannya.

******

Sudah dua pekan pikirannya risau. Menyesali perbuatannya. Sesekali Nina merasa dibisiki suara-suara gaib. Ah, mana ada setan di jaman ini. Pikirnya dingin.

Seperti biasa, Nina harus  bekerja dengan menumpang kereta jurusan Broklin-Nuyok. Kereta ini tak begitu padat, juga tak begitu lengang, hingga ia bisa duduk sekena hati. Bangku nomor B-11 jadi langganannya saban hari.

“Nyonya, bolehkah aku duduk disini?”sosok jangkung sekonyong-konyong menghampiri. Nina tak begitu acuh mengiyakan permintaan si lelaki. Tak sengaja ia melihatnya, ditengoknya sekali lagi, betapa manis manusia ini. Hidungnya lancip, bibirnya tipis. Menggoda perempuan manapun yang mencuri pandang kepadanya. Dalam keadaan lengah, lelaki itu memergoki Nina yang hanyut mengaguminya. Sontak, ia tersipu malu. Alangkah hina kau Nina, sudah bunuh adik sendiri, kini bernafsu ingin mengantongi pulang pria yang baru saja ditemui, hatinya terkekeh.

Keesokan hari, Nina kembali bertolak menuju Nuyok. Masih kereta yang sama, bangku yang sama. Bahkan Pria yang sama. Kedua kalinya mereka duduk berhadapan. Si Lelaki tersenyum memandanginya. Seolah takjub akan tabir kecantikan Nina Pirdereu. Ya, tak ada obrolan apapun.

Hari ketiga, Nina kembali menuju Nuyok. Kereta itu, bangku itu dan astaga, pria itu lagi. Kali ini Nina makin kesengsem. Betapa tidak, si lelaki tersenyum lebih manis dari hari sebelumnya. Dia tahu, lelaki itu mencuri pandang berulang kali.

Hari keempat dan tentu sudah dimaklumi. Kereta ini, bangku ini dan sekali lagi, pria di hadapannya.  Saling melempar isyarat, tanpa sepatah katapun. Agaknya Nina mulai kepincut.

Adegan ini terulang di hari kelima. Kereta itu, bangku itu dan pria itu. Diikuti aksi curi pandang silih berganti, juga menangkap basah satu sama lain. Bahkan di hari-hari berikutnya, Nina kedapatan bersolek, ditambah gaun terbaiknya.

Hari keenam Nina nyaris lupa soal pembunuhan. Beginilah perempuan, makin jauh dibawa berlayar, makin pula lupa daratan. Makin sering naik kereta, duduk di bangku, petak-umpet dengan si pria. Makin pula lupa adik sendiri.

Belakangan, dari kartu nama yang mengait di saku pakaian si lelaki, Nina mengetahui ia adalah pekerja di kantor pos. Ya,perkenalan mereka hanya sejauh itu. Hari demi hari, lagi-lagi pertunjukan sambung-menyambung seperti sebelumnya. Tanpa dialog. Hanya sinyal-sinyal terselubung, dari si Nina maupun si lelaki. Nina keranjingan dibuatnya. Sekarang, menaiki kereta tak sesederhana biasanya.

Tapi, di hari ke dua puluh delapan, sepulang bekerja. Nina tak lagi tahan memendam rasa. Ia ingin sekali menumpahkan seisi hatinya. Lagipula si lelaki, agaknya juga menyukaiku, pikirnya sepintas. Gerak-geriknya amatlah jelas. Berkali-kali mereka bertukar pandang, tak ada salahnya menumbalkan harga diri. Bukti-bukti begitu nyata, apalagi kalau bukan sama-sama naksir?

Hari kedua puluh sembilan. Pagi itu Nina amat memesona tak kurang suatu apa. Ia merias diri bak diundang ke pesta perkawinan. Pasalnya hari ini adalah hari sakral bagi Nina. Sebab akan membuka lembaran baru kehidupannya.

Bunyi pluit petugas terdengar samar di tengah kebisingan stasiun. Penjual roti berseliweran di peron, berteriak menjajakan rotinya sambil terus menurunkan harga. Adapula suami-istri berselisih dekat pintu loket di ujung gerbong. Semua dengan kesibukannya masing-masing. Termasuk Nina. Hatinya gusar menunggu si lelaki. Harap-harap cemas menanti apa yang bakal datang.

Lelaki itu akhirnya datang, langsung duduk seperti biasanya. Dan barulah hari kedua puluh sembilan ini bisa dimulai, sudah ada kereta, bangku dan pria itu.

Sialnya, Nina mendadak gagu, jantungnya meledak-ledak. Suaranya sayup-sayup menyapa si lelaki.

“Tu.. tu… tu…” Nina terbata-bata. Gemetar jari-jemarinya menyelusupi tas beludru di pangkuannya.

Lelaki itu mendongak, sebentar ia tolah-toleh merasa ada yang mengajaknya bicara.

“Tuan muda.. “sambut Nina dengan ketus. Mukanya pucat pasi, telunjuknya kanan-kiri terasa kaku, khawatir keputusannya ini keliru.

“Ada apa Nyonya?”timpal si lelaki menatap Nina sambil terus menepuk-nepuk pahanya.

“Kenalkan Tuan, namaku Nina. Sudah berhari-hari kita tak luput dari perjumpaan. Maafkan wanita ini, bilamana rasanya lancang berterus terang pada Tuan. Bukan tanpa alasan aku katakan ini, sebab akupun yakin Tuan memiliki hal serupa denganku” jelas Nina kali ini mulai percaya diri.

“Lanjutkanlah Nyonya..”

“Dari gerak-gerik Tuan selama ini, cara Tuan tersenyum padaku, cara Tuan memerhatikanku bahkan cara Tuan mencuri-curi kesempatan memandangiku, aku.. “

“Tunggu dulu..” potong si lelaki “Aku juga harus berterus terang…”sambungnya lagi.

Nina terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Tak perlu bersusah-payah meluapkan perasaan pada si lelaki, akhirnya ia kena pancing juga olehnya.

“Aku bukan tersenyum padamu ataupun curi pandang kepadamu…” jelas si lelaki.

“Tapi aku menaksir wanita di sebelahmu, yang selalu bersamamu , yang selalu berpakaian merah corak kembang sakura.”

Lalu ia menoleh ke sebelah Nina dan bertanya :

“Apakah kau adiknya Nina? Pasalnya kau mirip sekali dengannya.”

Nina terkejut. Bulu kuduknya naik. Nyaris dibikin pingsan mendengar jawaban itu. Sebab sudah satu bulan dua pekan yang lalu ia membunuh adiknya itu.

-Selesai-

Oleh : Rojiyal

No Comments

Post A Comment

Instagram
LinkedIn
Share
WhatsApp