Once Upon a Time in Jerewiyah

Once Upon a Time in Jerewiyah : Photo by Timon Klauser on Unsplash

Once Upon a Time in Jerewiyah

Bagaimana jadinya jika penulis besar bertukar jasad dengan pelacur kesohor?

Semua ini bermula dari Cekoaski si tukang Jahit yang menetap di Kota Jerewiyah. Akar-akaran yang tak lazim tumbuh di kota itu, terutama di pekarangan rumah Cekoaski. Turun-temurun keluarga penjahit Cekoaski menggunakan akar ini untuk keperluannya. Serat-seratnya dapat diolah menjadi apapun, tali, benang bahkan kertas. Akar macam apa itu, nanti akan tersingkap rahasianya.

Dia tukang jahit yang tak menorehkan prestasi apapun sepanjang karir kepenjahitannya. Satu hal yang diketahui darinya, ia pemurung kelas kakap.

Tinggal tak jauh dari situ, seorang lelaki berkulit putih babi. Johar si ahli berahi. Karyanya boleh dibilang mesum. Segala persoalan jiwa dan hasrat paling kotor dari manusia dijelajahinya. Sampai hari ini, ia telah menulis tiga buah buku yang dipenuhi pikiran gelap.

Hari lalu, Johar bertamu ke toko jahit milik Cekoaski. Jas hitam nya tak lagi muat, bolehlah pikirnya ditambah sedikit. Cekoaski tak banyak kedatangan pelanggan, dalam sepekan ia hanya menjahit tiga sampai empat potong kain. Itupun karena tokonya tetap menjahit di hari libur, dimana toko lain tak ada yang membuka praktik. Johar ini memang dikenali Ceko dari tulisannya. Ia amat menyenangi cerita-cerita liar yang menjadi bahan kepuasan baginya di malam hari. Johar adalah pahlawan kemaluannya. Sepulang Johar dari kediamannya. Ceko tak banyak pikir, langsung mengendus-endus aroma jas hitam itu. Agar mudah dikenali. Dipotongnya satu demi satu kain untuk menimpa bagian bawah jas itu. Di tengah kesibukannya, hujan menghantam seisi kota. Akar-akaran dekat rumahnya selalu mengeluarkan aroma tajam, seperti daun jeruk dan bubuk mesiu yang disatu-padukan. Seorang perempuan berpenampilan nyaris bugil mengetuk pintu amat terburu-buru. Ceko terkejut hingga gunting di tangannya secara tak sengaja memotong bagian bawah jas milik Johar. Kainnya koyak, bagian ujungnya tak lagi bisa diselamatkan. Dia amat panik. Tak karuan. Bagaimana jadinya kalau ia kecewakan panutannya? Habislah peluang sekali seumur hidup untuk bisa berkawan dengan si Johar.

“Sial kau! Aku terguyur diluar hanya demi sepotong jas hitam ini?! Aku ingin semuanya beres dalam sehari! Kecilkan bagian perutnya!” perempuan itu tak banyak omong, ia menyerahkan jas hitam miliknya. Dia membiarkan Ceko memelototi tubuhnya yang rekat oleh basah hujan. Bentuk pinggulnya pasti. Ceko ternganga tak bisa memastikan bagaimana pikirannya saat ini. Sesuatu mendesak keluar dari dalam celananya. Ia mengamati wajah betina segar ini yang tak lain adalah pelacur di sampul depan majalah nakal langganannya saban hari. Rona merah di pipinya seakan berontak ingin meloloskan diri.

“Kalau bukan karena semua toko tak membuka pintunya, aku takkan mungkin sampai disini! ” seketika perempuan itu lenyap ditelan guyur hujan.

Kini hanya tersisa Ceko si penjahit yang menanggung dua amanat besar di pundaknya. Pertama, bagaimana ia menyiasati bagian jas milik Johar yang terpotong. Kedua, jas hitam seorang perempuan yang kelewat ajaib harus dibikin lebih ajaib lagi. Bukan main, peran Ceko hari ini melayani dua tokoh yang berkiprah besar dalam hidupnya. Dua manusia yang sama-sama meladeni batang kencingnya tiap larut. Si Penulis Binal dan Pelacur yang tak lagi terukur kebinalannya.

Kota Jerewiyah dikabuti sampai waktu yang belum jelas. Derit kayu dari dipan kasur tiap kali Ceko membanting tubuhnya menambah kengerian malam. Tetesan air meloloskan diri dari celah atap makin menjengkelkan pemilik rumah. Ceko kehabisan jalan, bagaimana ia harus menebus dosanya terhadap Johar? Bagaimana pula menyulap jas hitam si pelacur jadi kain kesayangan?

Ceko merengek-rengek di hadapan gambar si Pelacur. Pikiran liar menerjang kepala. Bibirnya bergetar diikuti pergelangan kaki sampai pinggulnya yang kejang. Batang kemaluan mengemis-ngemis kepada sang ayah. Minta diringankan perkaranya. Dalam keadaan begitu, lahir sebuah gagasan tolol. “Kenapa tidak aku berhemat dari hasil menjahit, mungkin lima sampai sepuluh tahun. Untuk menyewa pelacur itu barang sebentar?!”. Bangsat, tentu imajinasinya hanya akan mengundang gelak tawa komplotan monyet sekalipun.

“Hari ini benar-benar merepotkan!” keluhnya perlahan sambil dibetulkan kain koyak si Johar.

(Pukul 09:30 pagi)

Celaka. Hari sudah terang. Urusan jas  belum lagi tuntas.

“Keparat! Bisa-bisanya aku tidur pulas!”

Dia membongkar laci peralatan kerja. Sialnya lagi, persediaan benang sudah habis.

Tak ada jalan lain. Ia bergegas menarik pintu, sinar matahari menyembur ke arah mukanya, menyilaukan pandangan. Jalannya tak teratur, tergesa-gesa memotong akar-akaran depan rumahnya. Dia ingat wasiat mendiang pamannya. Dalam keadaan terdesak, akar-akaran depan rumahnya itu bisa diakali. Serat-seratnya dipisahkan satu persatu menjadi untaian benang, ya, akar ini bukan akar yang lazim. Ia berdiri sebentar, pandangannya tertuju pada label kedua jas, kedua-keduanya berasal dari pabrikan yang sama. Ya, kedua jas itu nyaris sulit dibedakan. Kakinya gemetar, kedua matanya kabur,  ia kejang-kejang karena paniknya. Tubuhnya terhempas meluluh-lantakkan meja kerja. Kedua jas hitam tergolek di lantai. Keparat, Ceko tak mampu lagi menaksir yang mana jas milik Johar ataupun si pelacur.

Diraihnya dua jas hitam di meja kerja. Belum beres mengamati, ia menyeret kursi ke hadapan mesin jahitnya. Seakan dibisiki juru selamat, diguntingnya bagian perut jas hitam itu dengan cermat dan awas. Mengakhiri segala hutangnya hari itu.

Seperti sebelumnya, ia mengendus-endus jas si Johar. Dia cium aromanya sekali lagi. Ada yang tak beres! Tai… Ini bukan jas Johar! Bagaimana bisa kedua jas itu tertukar? Jas si pelacur ditambahinya kain, sedang milik si Johar ia kecilkan perutnya. Kegilaan apa yang menyeret Ceko sejauh ini. Tak masalah. Toh keduanya tak bisa ditaksir perbedaannya, bukan soal memperdayai pelanggan sekali-kali. Johar memakai jas yang sebetulnya kepunyaan pelacur dan begitu juga sebaliknya.

Tanpa basa-basi Johar menagih keperluannya itu. Ceko menyodorkan hasil jahitnya dengan ragu, berharap Johar kurang periksa dan lalu saja dari hidupnya. Tak dibayarpun rasanya sepadan dengan kegelisahannya. Johar tampak senang dengan hasil kerja si Ceko Penjahit Gila dan bergegas cabut. Sementara Ceko mengemasi perabot, datang si pelacur, lebih bugil dari sebelumnya ~kalau besok datang lagi, tentu telanjang bulat~ menuntut hajatnya.

Cekoaski Voltoskyi, berusaha menghatamkan keresahannya. Meludahi nasib sendiri, penjahit apes. Oh, persis. Berandalan Melankolis.

(Pukul 9″ malam)

Malam tiba. Bunyi klakson mustang Shelby GT 500 menghujani jalanan kota. Bangsat itu sudah berulang kali diampuni, tetap saja mengusik si Johar. Penulis Cabul ini bukan saja tak mempan ditantang duel, mengolok-oloknya sekalipun sama mustahilnya dengan menyentuh liang pantatnya. Dia akan makan malam dengan Jaren. Tentu bukan sembarang ia memilih kembang jempolan untuk pujaannya. Bersamaan dengan itu, di sebuah klub malam, si pelacur menanti kawanan bos yang susah bobo dan kepingin “dikeloni”. Biasanya transaksi ini bentuknya sangat administratif. Gila!!! Pengusaha kaya akan memesan nomor antrian lebih dahulu, setelah jadwal disepakati, maka “agen/biro Asmara” ini akan memesankan “bilik Asmara”. Barulah mencapai nota kesepahaman. Resmi sekali. Atau setidaknya pengunjung dapat berupa kelas pegawai biasa yang model transaksinya lebih swasta.

Si Pelacur tampak kedinginan, ia langsung saja mengenakan jas hitam yang tertukar dengan milik Johar. “Bumm!”suara ledakan terdengar di kamar klub malam, persis di ruangan pelacur yang sedang hinggap di jendela. Bos Minyak pelanggan setianya itu terkejut melihat kepulan asap menyala-nyala dari jas si pelacur itu. Di lain tempat, Johar merasa tak enak badan. Ia memakai pula jas milik pelacur tepat saat Jaren tiba di depan pintu kamarnya. “Dummm” dentuman tak seberapa membikin tubuh Johar menyala-nyala oleh kepulan asap. Nyaris memenuhi ruangan.

Dan inilah rahasia akar yang ditanamkan Cekoaski ke dalam kedua jas tertukar itu, tubuh mereka berdua bertukar. Johar merasuki badan si pelacur dan Pelacur itu mendiami jasad si penulis.

Seketika, Johar terkejut ketika di hadapannya seorang bapak tambun setengah telanjang merangkulnya. Menjamahinya tanpa ampun. Johar tak lagi memiliki kekuatan fisiknya. Tenaga yang dipunyai hanya sebatas milik si tubuh pelacur itu. Ia berusaha berontak namun bapak tambun ini makin saja menyelusupinya. Johar tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Alangkah kagetnya, ia menatap dadanya sendiri yang sekarang seukuran bola sepak. Sangat penuh. Sangat pasti. Bapak tambun itu masih saja sibuk mencari-cari hutan Raya di bawah selangkangan. Mulut nakalnya turut serta mencari-cari puting sang Ibu. Johar diam dan heran sejadi-jadinya akan kejadian malam ini. Berteriak dan membuat seisi klub mengira telah terjadi tindak kriminal. Apa boleh buat, ramai-ramai pengunjung klub memergoki “sang Ibu yang sedang menyusui anaknya”.

Bersama Jaren, pelacur itu belum menyadari keajaiban perpindahan tubuhnya, kepulan asap dari dentuman masih mengitari sekitar, ia belum juga dapat melihat Jaren, pikirnya ini ornamen ruangan untuk menambah kepuasan pelanggan. Keheranannya bertambah, celana yang dikenakannya tampak berbeda. Ah, barangkali pengaruh minum. Perlahan pelacur itu yang kini menetap di dalam jasad si Johar menjalankan tugasnya, melucuti celana katun berikut pakaian dalamnya. Tepat saat celana dalam itu meluncur tanpa ragu, Jaren sang kekasih si Penulis menggelinjang melihat “si Jagoan Neptunus Penguasa Tujuh Lautan” dipertontonkan begitu saja di hadapannya. Amat menakjubkan. Secara cuma-cuma dan tanpa basa-basi. Khususnya ini adalah kencan pertama mereka, begitu meyakinkan. Sedang si Pelacur bukan main tak memahami kenapa ada seorang perempuan dengan tampilan formil di hadapannya? Kemana perginya si Bapak Tambun? Rupanya ia belum juga menyadari perpindahan jasad yang dialaminya sampai ia melihat ke bawah dan “Upsssss”, tampak olehnya sepotong daging yang sebatang kara. Sialan.

-Tamat-

Oleh : Rojiyal

No Comments

Post A Comment

Instagram
LinkedIn
Share
WhatsApp