Filsafat Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Filsafat Tahu Bulat Digoreng Dadakan: Photo by Ashes Sitoula on Unsplash

Filsafat Tahu Bulat Digoreng Dadakan!

Kalau ada penghargaan untuk ide dan gagasan revolusioner di negeri ini. Saya usulkan untuk memberikannya pada abang penjual tahu bulat digoreng dadakan. Loh, kenapa toh mas beranggapan demikian? Mari kita mikir.

Betapa tidak, alangkah beraninya tindakan abang penjual tahu bulat tetap konsisten menjajakan dagangannya di tengah mafia tahu kotak yang merajalela. Hebatnya lagi, abang tahu bulat ini selangkah lebih maju dari mafia tahu kotak yaitu langsung mendatangi rumah-rumah pelanggan tanpa memikirkan nasibnya sendiri yang dihantui kecaman dan protes dari para pecinta tahu kotak. Belum lagi tahu kotak ini punya afiliasi sejenis yaitu tahu isi sumedang. Namun, inilah sikap dan mental pemenang, tidak mudah kendor disenggol terpaan angin, penjual tahu bulat tetap ramah menyajikan hidangan bulat dan panas. Ya, tahu isi sumedang, apa yang membuat tahu bulat unggul dari tahu isi sumedang? Caranya mayakinkan publik bahwa tahu ini benar bulat adanya dan tentu dadakan. Tak hanya embel-embel tahunya bulat dan dadakan, tapi abang tahu bulat dengan yakin dan percaya diri menggembar-gemborkan dagangannya dengan melalui rekaman yang diputar berulang sebagai bentuk propaganda. Bahkan lebih percaya diri lagi, boleh jadi musik ini ber album-album lagu dengan lirik yang sama dan berulang. Tahu Bulat, digoreng dadakan dan harganya 500 saja. Sebagai tahapan pengujian, ajukan saja pertanyaan sederhana ini “Apa yang bulat dan dadakan?”. Tentu jawabannya sudah layak di daftarkan ke dalam istilah KBBI, yaitu Tahu Bulat. 

Nilai apa yang ada di dalamnya? Inilah sikap seorang pemimpin yang seharusnya ada. Memiliki ide dan gagasan revolusioner serta tindakan nyata meski tak neko-neko. Apa janji abang penjual tahu bulat ini berlebih-lebihan? Apakah ia menepati janjinya? Ya. Saat kita membeli tahu bulat, apakah tahunya bulat? Ya bulat dan pasti. Digoreng dadakan? Kita langsung menyaksikannya sendiri di depan mata, tahu bulat kempis digoreng lalu mekar diiringi soundtrack nya yang selalu menari-nari di pikiran. Janji inilah yang mestinya menjadi nilai yang dianut oleh para pemimpin. Pemimpin itu penggerak bukan pengerat. Kita boleh adil dalam berpikir, namun seringkali tidak adil dalam tindakan. Seperti halnya abang tahu bulat yang adil dalam pikiran namun juga adil dalam tindakan, mestinya pemimpin pun demikian. 

Oleh : Rojiyal

No Comments

Post A Comment

Instagram
LinkedIn
Share
WhatsApp