Anjing Senayan

Anjing Senayan : Photo by Lucas Gallone on Unsplash

Anjing Senayan

Malam tadi seekor anjing menjadi buruan penghuni pasar malam. Betapa tidak, lebih kurang segepok duit milik pedagang menjadi objek empuk akal-bulusnya. Taman malam sedang sibuk meladeni hilir-mudik pengunjung.

“Anjing kau!” penjaga malam itu tergopoh-gopoh menanggung perut buntingnya, telunjuknya mendakwa lelaki di dekatnya.

“Goblok! Ringkus anjing itu! “tambahnya lagi.

Sekelompok pedagang mengarah ke penjaga malam, menanggalkan baju kebesaran seorang penjaja barang. Mendengus seperti babi gendeng.

Ya, anjing ini bukan jenis binatang sebagaimana lazimnya, ia seorang lelaki paruh baya, umurnya tanggung, kelakuannya tak tanggung-tanggung.

Anjing itu bermuka lonjong dengan batang hidung menjulang seakan menuding langit. Kulit lehernya legam. Pekat sekali, ciri khusus untuk mengenalinya. Orang-orang menjulukinya “Jakar”, ia amat payah dikejar gerombolan Tukang Porselen, kendati begitu semua sudah mafhum, ia ahli copet.

Bukan saja gelarnya itu yang bikin bapaknya gila, tapi kebiadabannya sejak masih bocah memang sudah gawat. Konon tabiatnya itu sangat binatang. Kalau lah binatang itu biadab dan dungu, jelas mereka tak dibekali akal sehat. Lagi pula, ‘seorang’ binatang mana yang sudi disejajarkan dengan ‘seekor’ Jakar. Kebiadaban ditambah kedunguan akan berakhir seperti hewan, kebiadaban dibubuhi akal mulus, itulah si Copet Jakar. Tak waras!

Dia terbirit-birit. Kakinya tak lagi kokoh, di belakangnya rombongan pedagang terus mengekor kemana pergi.

“Sialan!! Bodoh kau Jakar, kenapa tidak kusogok saja orang tua itu!” sesalnya dalam hati.

Rupanya yang bikin operasi ini berujung pada aksi maraton adalah seorang lelaki tua. Sementara Jakar menjarah laci berisikan segepok duit milik pedagang pecah-beling, bapak tua di seberangnya begitu polos meneriakinya “Copet..!”  Seketika Jakar terperanjat, si tukang porselen yang lengah tersentak dan kongsi dagang di sekitar nya tak ambil pikir, begitulah musabab perburuan copet ini bermula.

Jakar ini lain dari pencopet umumnya, ia terbilang sukses di tengah kemelut ekonomi metropolitan. Bukan tanpa sebab ia bisa meraup keberhasilan di bentala Ibukota. Kepiawaiannya itu paten. Bawaan lahir. Dia amat telaten dalam menyoroti incarannya. Makin ia dikenal sebagai pencopet kelas, makin kentara nama baiknya di tengah carut-marut dunia percopetan kota besar. Bak seorang aktor laga, ia melambungkan eksistensinya sebagai Raja diraja dari segala Raja. Tentu Raja Jambret. Di kota besar, percopetan itu biasa membentuk kontingen di suatu wilayah,tentunya didasarkan kemelaratan masing-masing ataupun keruwetan akal sehatnya.

Pekerjaannya yang menantang kematian itu, harus disertai penguasaan medan dan penerawangan jitu. Bukan Jakar kalau otaknya hanya menuntun ia menuju akhir ajalnya. Suatu waktu, ia mengecoh penjaga markas tentara, ya  seekor kucing ingusan menantang kejantanan seekor harimau. Sinting! Ketika itu, tak seorang pun menyadari kedatangannya akan mengakibatkan seisi markas hilang wibawa. Betapa tidak, ibarat sarang macan yang isinya kawanan buas, ditendang biji kemaluannya sampai luluh-lantak.

Entah kesialan apa yang menimpa si Malang Jakar, tertangkap basah di medan tugas, nampaknya suatu perkara musykil baginya. Namun apa daya, malam itu bukanlah malamnya Jakar. Maksud hati membawa pulang pundi-pundi emas walhasil ia malah mengundi hidup-matinya sendiri.

Dia menyelinap ke sebuah gang sempit, terbaring sebentar. Nafasnya tersendat-sendat tak ubahnya pengidap penyakit asma menahun. Di balik tembok kuning yang sedikit keriput bebatuannya, gerombolan pedagang memekik keras ke sekitar warga “Copet…!” . Sontak seluruh warga berkerumun keheranan.

“Mana ada copet di tengah keramaian macam ini! Kalaupun ada, seharusnya sudah kita tebas batang lehernya! ” sahut  seorang di antara kerumunan.

“Justru kami sedang mengincar Bajingan itu! ia takkan tahan lama bersembunyi dari kejaran kami!” pemimpin gerombolan meyakinkan warga.

Jakar termenung, terdiam membayangkan hidupnya yang kian merepotkan banyak orang.

Jakar yang nyaris kehilangan nafas terakhirnya memutar akal dan tipu muslihatnya kian kemari, tak peduli berapa harta harus ia relakan, asal malam itu bukan penghujung hayatnya. Selain itu, reputasi yang disandangnya tak boleh sampai terjun menghantam bumi. Dia bersikeras ingin tetap menjadi jagoan dari segala jagoan.

Malam tak mengampuni Jakar, rendahnya temperatur mengabutkan seisi kota.

“Persetan! Malam apa ini?! Begini kacaunya!” Jakar senewen. Tulang sendinya linu. Lidahnya kaku membiru, pundaknya mulai terguncang-guncang sendiri. Digigilkan malam.

Jakar, memang ia bukan pemikir ulung, tapi perenungan-perenungan hidup yang ia lewati kerap kali menyeretnya sampai ke titik ini. Dia tak punya apa untuk dipentaskan di tengah hiruk-pikuk persaingan hidup yang angkuh ini, tapi setidak-tidaknya ia mampu menjadi satu tingkat di bawah koruptor yang merupakan pencopet kelas lanjutan. Meski koruptor itu, pikirnya, adalah pencopet sekaligus merangkap pengkhianat pula. Sedang pencopet seperti dirinya, tak memiliki waktu dan podium khusus untuk membual menarik simpatik rakyat bawah dimana ia sendiri tergolong di dalamnya. Lebih terang lagi, ia boleh dikatakan sebagai pencopet yang dicopet pula oleh pencopet (Koruptor). Hematnya, antara pencopet dan koruptor tak bisa dipukul rata pengertiannya, kendatipun pekerjaannya sama-sama mencomot jatah nasi orang lain, namun pencopet semacam Jakar tak pernah makan tai sendiri.

“Aku melihatnya pontang-panting ke arah gang itu!” seorang warga melolong ke segala jurusan. Semua mata memandang serentak menuju gang kecil dimana Jakar tergolek lemah. Satu lagi kesalahan Jakar malam itu, ia tak makan barang sekepal. Jelas sekali aksinya itu semata-mata untuk sesuap nasi.

Badannya lemas. Mendudukkan tubuh sendiripun payahnya tidak alang-kepalang. Jakar segera mencari jalan lain, ia ingat ‘ilmu tikus’ yang diperolehnya dari perguruan jumbret-jambret semasa duduk di bangku menengah. Seekor tikus selalu menipu majikan rumahnya dengan ‘Siasat Jalan Lain’, ia akan menukik tajam membelot ke lawan arah saat pemburunya amat yakin dengan perkiraannya itu. Meski kedengerannya semacam aksi bunuh diri, inilah rahasia mengapa seekor tikus selalu tak mempan diburu oleh majikan rumahnya. Ia perhatikan dalam tempo singkat di penghabisan gang kecil itu terdapat pertigaan, inilah peluang dirinya bisa meloloskan diri dari amukan warga yang kini banyaknya menyamai panitia pesta perkawinan.

Rombongan pengejar yang dikomandoi si tukang Porselen makin gila sejadi-jadinya mendapati Jakar  sebatang kara. Mereka membabi-buta. Semakin mereka mendekati Jakar, semakin mereka benar-benar menjadi babi. Semakin mereka menjadi babi, semakin pula mereka menjadi buta.

Dan sekarang Jakar tak ubahnya anjing geladak yang diincar sekelompok macan kumbang. Rasanya badan jangkung dan otot bisepnya yang begitu ajek tak lagi berguna di saat seperti ini. Jakar nyaris dipecundangi nyalinya yang kian menciut. Seperti Buah Zakar yang mengkerut dan malas sekitar jam tiga pagi.

Di ujung Gang kecil, sesuai rencana dan perhitungannya, Jakar mengambil langkah kanan sehingga orang-orang yang mengekorinya pun ambil ancang-ancang menuju jalan penuh kubangan lumpur. Dan inilah taktik yang dimainkan seorang pencopet kawakan itu, ia dengan segera menarik tuas rem di kakinya, tubuhnya nyaris terjungkal karena licinnya setapak, diiringi rombongan yang satu demi satu tergelincir. Sampai-sampai ada yang terperosok terpaksa membenamkan dirinya ke dalam tong pembuangan.  Ada pula yang menungging dan menanam mukanya sendiri ke jalanan bertanah hitam basah.

“Goblok!Kutilangku!” jerit lantang si pengejar, senyaring-nyaringnya, kemaluannya terkulai, tak lagi pulas. Digigit tikus barangkali dari selokan atau got.

Jakar segera menukik tajam melawan arah menuju kiri jalan di pertigaan dan luput dari penghilatan para pedagang dan warga, ia melesat menjauhi lorong gelap. Tak dinyana, tipu daya si Copet Jakar belum juga berhasil, seorang pedagang-mungkin salah satu gerombolan pengejar-menghadangnya tepat di ujung jalan. Nyatanya ilmu tikus belum lagi cukup mengungguli kelompok pengejar itu, si Copet Jakar mesti menyertai ilmu leluhur tikus yang lebih mujarab. Yaitu ilmu Tokek. Tak perlu dipersoalkan apakah si tikus adalah ahli waris si tokek atau bukan, yang jelas begitulah ilmu itu turun-temurun diajarkan. Ilmu Tokek adalah mekanisme pertahanan diri. Silat Tradisional.

Sebuah kepalan tinju mendarat tepat di atas rahang si Copet Jakar. Bukan main. Bidikannya akurat. Ayunannya terlatih. Jakar berusaha bangkit, disekanya darah di pinggiran bibir dan “Bupp!!” pukulan telak dilayangkan persis di lambung Sang Pendekar Pasar Malam, ia terjengkang namun tetap berupaya menyeimbangkan badan. Puih. Sia-sia, akhirnya ia terkapar setengah tewas. Darah mengucur dari kedua lubang hidungnya, dan Jakar berharap begitupun dari liang bokongnya.

Operasi pengejaran itu tak membuahkan apapun kecuali pinggul dan tulang ekor yang remuk.

Bagi pencopet kelas akar rumput seperti Jakar, hanya ada dua hal yang paling mungkin bila tertangkap. Dihabisi massa sampai sekarat. Atau dihakimi massa sampai dilerai aparat, itupun kalau bukan uang aparat yang kecopetan.

Lain soal dengan pencopet dari kelas pemerintah, persis juga dua kemungkinan yang paling mungkin. Dipeloroti hartanya lantas dihadiahi kebebasan. Atau tentram dan terjamin, itupun kalau aparat kejatahan uang hasil copetan. Puih! Menjijikkan.

“Anjing!” jerit pedagang yang kehilangan segepok duitnya malam itu. Dia bukan saja gila tapi juga Jakar telah melucuti akal sehatnya, menelanjanginya sampai ke lutut, mengkibulinya sejadi-jadinya.

“Kalau saja Jakar bukan kemenakanku! Sudah kulenyapkan ia sejak kemarin!”sambungnya lagi sambil kesakitan meraba-raba pahanya yang memar.

Di ujung jalan nun jauh, Jakar senyum sendiri, jauh dari kelompok pengejarnya, tak kentara lagi nasib buruknya di Kota itu. Kotanya Pencopet dan Koruptor.

Oleh : Rojiyal

No Comments

Post A Comment

Instagram
LinkedIn
Share
WhatsApp